Dear Dibana. Beribu-ribu maaf kuucapkan pada ibu pertiwi, Dibana. Maafkan aku karena aku jarang nulis buku diari ini. Itu semua karena aku sibuk banget, banget, dan bangeeettt! Seharusnya kamu ganti nama, Dibana– karena kamu bukan terbit harian, melainkan bulanan. Kamu pasti merasa terasing di dalem kulkas, dan engga ada yang ngasih makan– apalagi dibiarin kedinginan. [...]
Filed under: Curhat Banana (Dibana) | Ditandai: Curhat Banana (Dibana) | 1 Komentar »



