Cara Mengembangkan Ide Cerita Fiksi Ala Rey (Bag III)


Fiuhhh…akhirnya koneksi internet saya jalan juga. Mohon maaf sebelumnya bagi para pembaca setia yang menanti-nanti bacaan saya, tapi pas buka blog, tidak menemukan update terbaru tentang bahasan saya ini.

Baiklah, tidak usah banyak basa-basi, takutnya bahasan saya keburu basi. Dan makanan yang basi itu bukankah dilarang untuk dimakan, bukan? Hmm….

Ok! Sekarang saya menganggap IDE anda BEDA! Dan tidaklah SAMA. Jangan pernah tanyakan saya lagi: “tapi…saya ragu nih, orang-orang bilang ide saya mirip si penulis A,” atau “Wah mas, tidak bisa begitu. Ide saya ini mirip banget loh sama yang punya ide ini asli.”

Ahhh….tidakk!

Saya tak mau mengulangi lagi pembicaraan saya. Selama anda tidak copy-paste, dan bila anda mengutip kalimat dari penulis tertentu dengan memasukkan sumber: saya yakin, orang yang membaca melihat anda adalah penulis yang jujur. Dan lagipula yang saya bicarakan ini bukanlah sebuah tulisan yang sama, melainkan IDE yang anda anggap kebetulan SAMA.

Coba anda baca tulisan yang berdasar pada IDE yang SAMA, tapi tulisannya berbeda, mmm…contoh saja, novel parodi Oben Cedrie yang berjudul Tuilet: tuh iler melet….BINGGO! Anda pintar! Jika anda sudah membacanya, maka anda menemukan kalau ia jelas-jelas mengambil ide dasar dari kisah percintaan vampir dan manusia– namun, apa yang dilakukan oleh penulis (Oben Cedrie)– dia tidak jelas-jelas meng-copy-paste apa yang ia baca dari novel asli karangan Stephanie Meyer itu. Tapi ia merombak ide dasar menjadi Ide yang wah!….bisa anda lihat sendiri.

Oben Cedrie termasuk penulis parodi komedi yang diperhitungkan. Hmm…ya…itu hanya contoh. Masih banyak lagi sebenarnya.

Tapi perlu digaris bawahi, kalau saya ingin anda menjadi penulis yang menciptakan trendsetter, bukan follower. Kalaupun anda merasa tidak mampu menjadi trendsetter, saya rasa saran yang paling istimewa adalah: BERUSAHA! BELAJAR! DAN JANGAN PUTUS ASA! Kalau untuk mencapai trendsetter anda perlu menjadi follower terlebih dahulu, kenapa tidak?

Kembali ke sharing saya tentang Mengembangkan Ide Cerita Fiksi Ala Rey… Ingat, saya bukan berbagi tentang tehnik menulis.

Perhatikan Hal yang Kecil ketika Mengembangkan Ide Cerita anda.

Siapa yang tak kenal dengan Sherlock Holmes, si detektif handal dari 221B Baker Street. Kemampuannya menganilisa suatu kasus yang sulit dipecahkan oleh polisi, ia pecahkan dengan kekuatan pikirannya untuk melihat setiap jejak kasus dengan teliti. Benda yang paling kental dengan karakternya adalah kaca pembesar! Itu sudah jelas membuktikan, kalau dia orang yang teliti. Ya, teliti. Holmes selalu memperhatikan hal-hal yang kecil ketika memecahkan kasusnya. Hal kecil yang sepele, justru menjadi kunci terselesaikannya kasus yang Holmes alami.

Saya jelas bukan Sherlock Holmes, dan saya tidak akan meminta pembaca yang budiman menggunakan kaca pembesar ke ide di otak anda, untuk meneliti satu persatu ide yang keluar. Tapi, yang saya pelajari dari yang saya ceritakan dari ide-ide cerita yang saya buat adalah, saya sering mengembangkan ide cerita dari bagian ide cerita saya yang kecil. Hmm…saya yakin, anda pasti bingung. Ngopi dulu lahh…nyantai…

Sekedar promosi, saya punya cerpen, dengan cerita berjudul: PSK (tersedia di kolom cerpen). Saya yakin, sebagian orang pasti mengira itu Pekerja Seks Komersil, dan sebagian lagi menebak, itu adalah sebuah tipuan. Hmm…jawabannya dari saya simple: saya justru awalnya membuat ide cerita itu  tentang Pekerja Seks Komersil. Tapi saya berubah pikiran (beda tidak?). Itu semua karena saya menilai dari huruf ‘P’ dan ‘K’– bisa saya jadikan objek untuk dikembangkan menjadi sebuah cerita yang sulit dibaca ceritanya, dan ditebak akhirnya. Saya yakin, sebagian penulis yang ahli pasti tahu teknik membelokkan cerita dan mengejutkan ending, agar ceritanya menarik– dan yang saya lakukan memang sama.

Adalagi, ketika saya membuat cerpen berjudul 60 mayat (silahkan baca di kumpulan cerpen Kacang Keledai: hehehehe…): awalnya, saya benar-benar bin sungguh, berniat membuat cerita itu tentang pembunuhan oleh seorang pembunuh berdarah dingin, psikopat, dll. Tapi mendengar ada kata ‘pembunuh berdarah dingin‘ — saya mengembangkannya menjadi ‘syuting pembunuh berdarah dingin‘.  Malah tadinya saya berniat untuk mengubah jalur idenya menjadi : pembunuh berdarah dingin, yang membunuh dengan celana kolornya, yang tak pernah dicuci selama sepuluh tahun.

Ayo…sekarang anda pasti bisa! Ya…mungkin anda punya ide cerita dengan ide dasar dan sederhana dari ‘Kisah percintaan tanpa restu orang tua‘– lalu anda kembangkan menjadi ‘Kisah percintaan orang tua yang bingung dengan yang dinamakan’ restu’?” Hmmm…. atau mungkin anda punya ide sederhana, dari “Kisah cinta sulit menyatu karena perbedaan umur,” menjadi ” Cinta tentang si Umur yang tak punya kisah yang harus diceritakan.”…..ayolah….anda pasti pernah terpikir untuk menulis yang aneh-aneh, bukan? Tapi anda takut tak bisa?

Anda Pasti BISA! Kalau anda tetep ngotot bilang: SUSAH EUY! atau NULISNYA GIMANA? jawaban dari saya…Banyak-banyak membaca. Baca apapun yang anda pengen baca. Apapun yang berhubungan dengan membaca, pasti hasil dari membaca. Jangan malas. Tidak ada sejarahnya kalau penulis sukses dari hasil tidur-tiduran, atau maen layang-layang sambil nulis.

Dalam surat al-alaq ayat 1 (satu) pun, tertulis: Bacalah! Dengan menyebut nama Tuhanmu.”…apa anda berniat melawan?

Sekian! Mohon maaf bila ada kesalahan dari saya. Tapi yang saya tulis, belum tentu tamat!

Keep Writing!

sumber gambar: http://us.123rf.com/400wm/400/400/ktsdesign/ktsdesign0606/ktsdesign060600288/455504.jpg

Iklan

4 Tanggapan

  1. Males gan. You punya cara kayaknya norak ya.

    • Jangan malas, lah, gan. Kalau memang anda berniat menulis.

      Ini hanya sharing ide penulisan.

      Mengkritik orang lain, belum tentu membuat anda lebih hebat, gan.

  2. ya ya … semua teknik sama, cuma kreativitas si penulis yang harus dilipat gandakan.

  3. Wah, bagus juga sarannya haha
    kebetulan sya lg galau soal mengarang fanfic , thx ya =D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: