Lomba Menulis Cerpen Fantasy (Fantasy Fiesta 2010)


Lama tidak posting lomba-lomba. Hohoho…

Bagi para penulis yang merasa memiliki spesialisasi khusus atau memiliki bakat terpendam– dalam bidang fantasy, inilah saatnya. Lomba ini diselenggarakan oleh orang-orang yang berpengalaman di bidangnya. Siapa yang tak kenal dengan RD Villam, salah satu nominator KLA, kemudian Dian K, lalu Bonmedo Tambunan. Mereka langsung menjadi juri dalam lomba ini, lho!

Tunggu apa lagi bagi para penulis genre Fantasy ataupun yang ingin mencoba menulis Fantasy– lomba ini tepat untuk mengetahui keterampilan dan imajinasi anda.

Syarat dan Ketentuan:

• Lomba Cerita Pendek Fantasi Fantasy Fiesta 2010 boleh diikuti siapa saja, namun setiap peserta hanya diperbolehkan mengikutsertakan satu buah karyanya.

• Syarat dan ketentuan cerita:
o Cerita adalah karya asli peserta, bukan saduran atau jiplakan.
o Cerita belum pernah dipublikasikan sebelumnya di media cetak maupun elektronik.
o Cerita menggunakan Bahasa Indonesia yang baik, bernuansa fantasi dengan tema dan latar bebas.
o Cerita berisi minimal 2500 kata dan maksimal 3000 kata.

• Untuk menjadi peserta, Teman-teman harus mendaftarkan diri dengan cara mengirim e-mail ke alamat fantasyfiesta2010@gmail.com dengan judul ‘Pendaftaran Lomba Cerpen Fantasy Fiesta 2010’, paling lambat tanggal 23 Agustus 2010, dan berisi:
o Nama pena
o Nama asli (lengkap)
o Alamat surat menyurat
o Naskah Cerita, dilampirkan dalam bentuk data Microsoft Word.

• Seluruh cerita yang sudah dikirimkan oleh peserta akan dikumpulkan dan dipajang di situs http://kastilfantasi.com/forum pada gerai Fantasy Fiesta 2010.

• Peserta juga diperbolehkan memajangnya di tempat lain seperti blog, facebook, kemudian.com atau situs-situs lainnya, dengan tak lupa memberikan keterangan bahwa cerita tersebut diikutsertakan pada ajang Fantasy Fiesta 2010 (Siapa tahu nanti ada tema-teman yang lain yang juga mau ikutan). Bagi peserta yang memajangnya di tempat lain tersebut, maka diminta untuk memberikan tautannya pada e-mail pendaftaran.

Pemenang dan Hadiah:

• Tiga cerita terbaik alias pemenang akan diumumkan pada tanggal 31 Agustus 2010 di http://kastilfantasi.com/forum pada gerai Fantasy Fiesta 2010.

• Hadiahnya adalah:
o Pemenang Pertama akan mendapatkan hadiah berupa voucher belanja/uang tunai senilai Rp 400.000,-.
o Pemenang Kedua akan mendapatkan hadiah berupa voucher belanja/uang tunai senilai Rp 250.000,-.
o Pemenang Ketiga akan mendapatkan hadiah berupa voucher belanja/uang tunai senilai Rp 150.000,-.
o Selain itu, para pemenang juga akan mendapatkan hadiah berupa buku-buku terbitan Penerbit Adhika Pustaka, beserta tanda tangan penulisnya.

• Seluruh cerita akan dinilai oleh tiga orang juri:
o saya sendiri, RD Villam,
o Dian K (penulis Zauri: Legenda Sang Amigdalus) dan
o Bonmedo Tambunan (penulis Xar & Vichattan: Takhta Cahaya dan Xar & Vichattan: Prahara).

• Hasil akhir penjurian tidak dapat diganggu gugat.

sumber: www.rdvillam.com

Iklan

Netra


Dalam bahasa latin, manusia menyebutku spizaetus bartelsi alias Garuda. Burung yang menjadi symbol salah satu Negara demokrasi di asia tenggara—Indonesia, dan Thailand. Adapun, di Mongol, aku dijadikan symbol ibu kota Mongolia, Ulan Bator. Dominasi warna buluku coklat terang, pada bagian tepi sayapku terdapat warna gradasi abu ke hitam. Dan warna kuning terang pada kakiku selalu menjadi ciri khas—dengan cakar yang tajam, dapat mencengkram mangsaku, untuk bisa bertahan hidup sehari-hari.

Tak ada yang tahu hidupku tak seperti kebanyakan burung Garuda lainnya. Tapi aku juga tak tahu, apakah mereka masih ada atau tidak. Mm, selama aku terbang mengarungi nusantara, aku belum pernah merasakan semilir kepakan sayap dari sahabatku, yakni sesama garuda. Mungkin, mereka semua memang benar-benar sudah punah, tapi mungkin juga apa yang kurasakan akibat dari kesalahan pori-pori tubuhku yang salah membaca kepakan sayap mereka.

Spesies burung gagah yang selama ini kurasakan, tak pernah mau berteman denganku. Aku hapal kepakan sayap burung elang, burung hantu, burung gagak, burung wallet, burung gereja, dan burung-burung lainnya.

Ketika aku lahir, aku hamper saja langsung mati seketika—dan tentu saja, itu semua akibat dari lahirnya aku sebagai burung garuda yang teramat istimewa, dari burung garuda lainnya. Aku adalah garuda yang tak memiliki kepala, dan itu artinya aku tak memiliki jambul yang menunjukkan cirri khas garuda, tak memiliki paruh yang melengkung bagai arit, dan mata yang tajam untuk mencari mangsa. Aku bernafas lewat pori-pori tubuhku ketika mengepakkan sayap, aku makan lewat alat kelaminku walau rasa makanannya selalu tak enak karena bercampur dengan…ah, sudahlah—rasanya tak pantas jika aku harus menyebutnya.

Kau tahu, kenapa aku masih hidup hingga dewasa? Jawaban yang mudah sebenarnya: aku dibawa terbang oleh ibuku. Naluri seorang ibu tak pernah meleset, walaupun ia sebenarnya tak ingin aku lahir dengan keadaan seperti ini: Tanpa kepala. Ibu berjuang sekuat tenaga, ia selalu terbang agar aku tetap hidup, agar aku bisa merasakan udara yang masuk melalui pori-pori tubuhku—hingga pada akhirnya aku menjelma menjadi burung garuda yang gagah! Perkasa!

Walaupun tanpa kepala.

1/

Saat umurku menginjak 7 bulan, aku mulai diajarkan terbang. Itu artinya, aku takkan menyusahkan lagi Ibu yang selama itu tak pernah berhenti mengepakkan sayapnya mengarungi angkasa agar aku bisa bernafas. Terkadang aku bisa merasakan Ibu sangat keletihan karena tak pernah hinggap di ranting pohon atau di puncak bebatuan untuk terjun dari atas seperti gantole.

Ibu benar-benar mengajarkanku arti kehidupan. Aku bisa merasakan dari caranya menyentuh sayapku, menariknya perlahan, melepaskan cengkraman cakarnya dari tubuhku—dan WUFF!—sayapku merentang.

Tapi aku termasuk burung yang bodoh, karena ketika ibu melepaskan cengkraman tangannya, aku malah berputar-putar di angkasa, lalu meluncur ke bawah—meluncur deras layaknya meteor yang terbakar oleh atmosfer, dan akhirnya terpaksa Ibu mengambil tubuhku lagi untuk dibawa terbang.

Ada perjuangan dalam hidupku bersama Ibu, hari itu. Selama seratus percobaan aku diajari terbang—semua berakhir gagal.

2/

Pada hari kedua, aku mulai sadar: kenapa aku tak bisa terbang? Kemarin, Ibu selalu berusaha memberitahuku lewat tepukan sayapnya pada kakiku. Aku tahu ia berusaha bicara padaku, namun ia bingung harus seperti apa memberitahunya. Yang kurasakan hanya tepukan yang terkadang pelan dan terkadang keras, sambil mengangkat kakiku naik-turun. Aku tak tahu artinya! Aku bingung!

Hari ini aku memutuskan, kalau aku harus punya alat komunikasi, bagaimanapun caranya agar bisa berbicara dengan Ibu. Agar aku bisa terbang, dan tak lagi menyusahkan Ibu—dan dari tepukan Ibu kemarin, aku punya ide—kalau aku harus menciptakan bahasa.

Dalam waktu singkat, aku sering sekali menepuk-nepuk kaki Ibu. Kadang dengan sentuhan pelan, keras, berirama, lambat, berayun-ayun, hingga membuat symbol-simbol di perutnya seolah membuat isyarat.

Kode rahasia!

3/

Dalam waktu satu bulan, Ibu akhirnya menerima bahasaku. Alat komunikasi resmi ciptaanku, bersama Ibu. Kami berdua menciptakan sandi morse ala kami berdua. Tak pernah ada yang tahu! Bahkan manusia mungkin takkan percaya, seperti mereka tak percaya kalau aku ini benar-benar ada. Ibu menceritakan banyak kisah tentang seekor burung hebat yang lahir dengan berkekurangan, namun bisa menonjolkan kekurangannya itu menjadi kelebihan, lewat bahasa symbol di tubuhku. Ia membicarakan burung phoenix yang tubuhnya penuh api. Aku tahu kisah itu digunakan Ibu agar aku bersemangat untuk bisa terbang dengan kekuranganku ini.

Dari alat komunikasi itu, semua masalah tentang ‘kenapa aku tak bisa terbang?’ terpecahkan—ternyata aku selalu menyilangkan kakiku, dan itu artinya aku tak bisa terbang. Tebak saja sendiri: burung mana yang bisa terbang dalam keadaan kaki menyilang, seolah terikat?

Dari kesalahanku itu, aku akhirnya bisa benar-benar terbang. Aku bisa merasakan nafas yang sempurna lewat sebuah kepakan sayap yang sempurna. Lewat kepakan sayap selanjutnya, aku bisa merasakan bulu tubuhku bergoyang-goyang—dan yang terpenting—aku bisa melepaskan Ibu dari penderitaannya.

Ibu akhirnya terbang di sampingku, aku bisa merasakan kepakan sayapnya sekarang terasa lebih ringan karena tak harus lagi mengangkatku. Aku bisa merasakan kalau pandangannya kini sekarang sedang melihat: betapa senangnya ia, karena akhirnya aku bisa terbang, dan tak lagi menyusahkannya.

Hari ini adalah hari terindah dalam hidupku.

Keesokanharinya, giliran aku terbang sendiri tanpa henti. Aku memerintahkan Ibu beristirahat, berdiri di atas ranting, atau bergaya di puncak bukit bebatuan mungkin bisa membuat pikirannya kembali segar. Aku sekarang sudah bisa terbang, atau bisa dibilang: aku sudah dewasa.

4/

Tapi…satu minggu kemudian, aku dibuat resah oleh Ibu. Ia tiba-tiba hinggap di pundakku dengan keadaan tak bertenaga. Suhu tubuhnya panas, jambulnya terasa layu, sayapnya melemas, dan ia berusaha sekuat tenaga memberi tahu aku kenapa ia seperti itu.

Ibu perlahan mengayunkan sayapnya, membentuk ketukan kecil di tubuhku, membuat symbol-simbol, dan membentuk sebuah percakapan seperti yang biasa kita lakukan, berdua.

“Netra, cepat pergi. Phoenix telah datang! Phoenix telah datang!” dari hasil terjemahanku, Ibu berkata seperti itu. Entah kenapa, bulu kudukku merinding sekaligus tegang, karena terkejut. Aku membalas membuat bahasa lagi di tubuhnya.

“Ibu jangan bercanda? Ibu kenapa?” aku membuat symbol dengan cepat.

“Sudah, jangan banyak bicara. Terbanglah setinggi mungkin, Phoenix takkan mampu menggapaimu kalau kau terbang tinggi.” Aku merasakan ada cairan yang merembes dari tubuh Ibu, meresap kedalam tubuhku.

Itu darah! terkaku

“Ibu kenapa? Apa phoenix itu benar-benar ada?”

“Sudah cepat! Ayo terbang ke atas! Terbang lebih tinggi!” Ibu mengangkat kepalaku ke atas. Jujur, ketukan sayap ibu Nampak berbeda. Aku agak sulit menerjemahkannya. Dengan sekuat tenaga, aku terbang lebih tinggi. Mengabulkan permohonan Ibu.

Dalam perjalanan terbang lebih tinggi, aku merasa keberatan. Tubuh Ibu jelas lebih berat dari tubuhku. Ditambahlagi pernafasanku terhalang darah ibu yang semakin banyak. Aku tak mau ada apa-apa dengan Ibu. Ia butuh pertolongan….tapi siapa yang mau menolong Ibu? Untuk meminta pertolongan, dibutuhkan komunikasi antar burung yang lainnya, dan yang mengerti bahasaku hanyalah Ibu. Aku bingung.

Darah Ibu semakin merembes. Nafasku menjadi sesak. Ibu dapat merasakan tubuhku menjadi lemas, dan perlahan sayapku tak bisa mengepak dengan sempurna. Ia tahu. Ibu merasakan apa kesulitan yang anaknya ini rasakan.

Dalam hitungan detik, aku merasakan ada hawa panas yang melesat dari bawah kakiku, melewati melewati bulu perutku. Panas sekali, hingga membuat bulu tubuhku menterjemahkan, kalau itu adalah burung yang Ibu katakan.

Burung Phoneix!

Tidak…tidak…ini tidak mungkin! Burung phoenix hanya ada di dalam dongeng Ibu saja. Burung phoenix tidaklah benar-benar nyata. Aku yakin tadi hanyalah perasaanku saja. Aku yakin itu bukanlah burung phoenix!

Wush!

Kali ini sayap kiriku yang merasakan hawa panas itu! Aku merasakannya dua kali! Ibu memang pernah bilang, kalau kecepatan burung phoenix sulit dibaca. Ia sungguh cepat, dan yang bisa mengalahkannya hanyalah kecepatan cahaya matahari. Tidak! Aku tak mau mati sekarang. Aku baru merasakan terbang kurang dari seminggu. Aku baru merasakan indahnya membahagiakan Ibu—dan aku tak mau apa yang selama ini Ibu perjuangkan pergi begitu saja. Aku harus menolong ibu!

Dengan sekuat tenaga aku mengepakkan sayapku. Lebih keras, lebih kencang, dan lebih kuat.

Wush! Wush!

Kurasa burung ada dua burung phoenix yang menyerang. Satu burung phoenix berhasil membuat Ibu lepas dari pundakku—dan satu burung phoenix lagi, berhasi menebas kakiku, hingga aku hilang keseimbangan. Ibu terlepas dari tubuhku. Aku bisa merasakan sayapnya berputar-putar seperti ketika aku jatuh saat belajar terbang. Pun tubuhku juga berputar-putar sama, karena tak ada daya dari satu kakiku yang telah lumpuh. Dengan kecepatan yang perlahan menjadi cepat, tubuhku terhempas ke tanah. Ber-gedebum. Nafasku sesak. aku tak mampu bernafas.

J J J

5/

Aku akhirnya bisa melihat setelah aku mati. Aku merasakan punya kepala, mendengar dengan normal, dan bisa melihat sosok phoenix itu seperti apa.

Rupanya phoenix keluar dari senapan yang di genggam manusia. Hebat!

PSK


Braga sudah merupakan tempat wisata yang tak asing di telinga penduduk di Bandung. Daerah yang kebanyakan bangunannya bergaya Belanda itu, hampir setiap hari ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal, maupun asing. Diskotik, Café, Bar, Biliyar Center, Theater, Mall, Hotel, dan Apartemen semakin menguatkan daerah tersebut memiliki pusat hiburan khusus pelepas stress—tak banyak para fotografer melakukan beberapa sesi foto—di trotoar jalan yang lebar, dan bangunan-bangunan Belanda yang punya ciri khas pada pintunya yang besar, dan pilarnya yang tinggi. Model-model yang dijepret oleh juru kamera pun tidak hanya model terkenal maupun orang-orang dari kalangan artis. Justru, kebanyakan yang melakukan sesi foto di badan jalan itu, adalah model-model yang hanya ingin di foto satu kali seumur hidup. Maksudku, mereka adalah pasangan yang melakukan sesi foto pra-wedding.

Sebagai seorang Fotografer Freelance, order foto pra-wedding tak pernah sepi. Setiap minggu, aku selalu mendapatkan klien. Kadang aku kewalahan menyanggupi order untuk foto, entah kenapa, padahal fotografer di Bandung jumlahnya tak sedikit. Para klien beralasan, kalau foto hasil jepretan-ku memiliki kualitas yang lebih baik, dibandingkan para fotografer yang lainnya. Mungkin karena bayaranku yang tak begitu mahal, menjadi alasan mereka memilihku juga. Siapa yang tak mau barang bagus tapi murah? Belanja di pasar hingga mall pun, menjadi target pembeli, jika mendapat tawaran istimewa seperti itu..

Hari ini aku sedang melakukan sesi foto pra-wedding sahabatku sejak kecil. Namanya Pringadi. Aku lebih suka memanggilnya Adi, daripada Pring. Alasannya karena aku lebih suka memanggil nama orang dengan dua suku kata. Perawakan Adi gemuk, perutnya buncit, dan wajahnya khas seperti bugs bunny, tokoh kartun yang akrab di televisi anak-anak. Aku kadang senang mengatai dua gigi di barisan terdepannya, dia sendiri sering mengataiku gay, karena hingga umurku yang menginjak kepala 4 (empat)—Adi tak pernah melihatku memiliki hubungan khusus dengan wanita, alias Bujang Super Tulen.

Setelah selesai melakukan sesi foto, Adi mengajakku beserta calon istrinya yang berkerudung itu ke foodcourt yang terletak di lantai dasar Braga City Walk. Sudah lama aku tak bertemu dengannya, sejak ia bekerja di Kedubes Indonesia di Amerika, 10 tahun yang lalu. Ketika itu aku sangat sedih saat Adi pergi—karena hanya ia satu-satunya orang yang kuanggap sebagai keluargaku.

Aku sebatang kara.

Semua keluargaku meninggal akibat Bencana Tsunami yang melanda Aceh. Saat bencana itu terjadi, aku sedang meneruskan program Magister di salah satu Universitas Negeri Tehnik terkemuka di Bandung. Ya, aku bergelar Magister Tehnik Industri (Mti). Sama seperti sahabatku itu, Adi.

“Hahaha…tak kusangka kau sekarang bekerja sebagai Fotografer Freelance,” tawa Adi, “kau kemanakan gelarmu itu, kalau hanya belajar memencet tombol blitz, lalu memerintahkan orang bergaya.” Aku memang lose contact selama sepuluh tahun ini dengan Adi, tapi dia berhasil menemukanku, karena hasil fotoku terkenal hingga ke negeri Paman Sam, tempat Adi bekerja.

“Hehehe…kau juga, belajar habis-habisan di ITEBAN, bercita-cita menjadi Presdir di Kaltex, tapi ternyata nyasar ngurusin paspor di negeri orang. Kita seri.” Balasku sambil menyantap nasi goreng. Calon Istri Adi tertawa kecil mendengarnya.

“Tapi setidaknya aku sekarang memiliki calon istri yang sangat cantik, dan sesuai kriteria yang pernah kuceritakan padamu dulu, di kosan.” Adi melirik Calon Istrinya sambil melempar ciuman dengan tangan. Aku dan Adi memang sering saling melempar kritikan, namun tak pernah tersinggung satu sama lain. Aku hanya tersenyum menarik sudut bibirku.

“Aku juga sudah punya.” Celetukku. Pernyataan itu membuat Adi tersedak, lalu batuk, ketika mendengarnya sambil minum kopi. Meja makan menjadi kotor.

“Apa katamu?”

“Iya, aku sudah punya calon istri.” Tegasku sambil meneguk air putih.

“Wow! Itu bagus kawan.” Adi menepuk bahuku, dia nampak antusias, “Siapa namanya? Umurnya berapa? Kerja dimana? Apa gelarnya? Kenapa dia tidak kau suruh kesini?” Lanjut Adi nyerocos.
Aku bersikap biasa saja, tapi hatiku tak dapat dipungkiri lagi—aku ingin melihat ekspressi Adi setelah mendengarkannya.

“Shafira Nania Nevada, 30 tahun, seorang PSK, dan hanya bergelar SMA. Mungkin 15 menit lagi datang, tunggu saja.” Jawabku tenang, menyantap satu sendok nasi goreng yang terakhir.

Adi terdiam. Cangkir kopi di tangannya terjatuh. Pecah. Para pengunjung food court langsung menyorot terkejut ke arah kami duduk. Calon Istri Adi hanya bisa menutup mulut dengan kedua tangannya. Ekspressi keduanya begitu terkejut mendengar pernyataanku itu.

“Kau bercanda, kan, Tengku?”

“Tidak, aku serius.”

Adi menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya ia kerjapkan begitu keras, “tidak! Aku tak percaya, kau pasti sedang bercanda. Aku sangat mengetahui kau luar-dalam. Kau bukan orang yang gegabah dalam mengambil keputusan untuk menikah. Kau bukan orang yang bisa tertarik oleh kecantikan wanita. Kau juga bukan lelaki yang mengagung-agung-kan cinta, hingga begitu buta menikahi seorang PSK.”

“Tapi itulah kenyataannya, Di.” Potongku.

Adi membuka matanya lebar-lebar, mimik wajahnya berubah menjadi geram; seolah-olah ingin menarik bajuku, lalu memukulku hingga terjembab, di muka umum. Tapi itu hanya khayalanku, aku jelas tahu Adi seperti apa. Adi selalu berpikir jernih, dan mencoba menerima segala keadaan orang lain. Dia tak pernah memilah-milih dalam berteman, mau temannya itu penjahat kelas teri, pembunuh, pemerkosa, maupun pelacur sekalipun, dia tak pandang bulu. Adi bahkan selalu berusaha membimbing temannya ke jalan yang benar, seperti ketika aku kehilangan semua keluargaku: aku jatuh miskin, dan hanya Adi yang memberi aku semangat. Aku sempat berhenti kuliah, untuk meneruskan kuliahku, aku menjadi pencopet, bahkan aku hampir saja menjadi seorang germo.

Ketika malam sebelum aku berniat menjual harga diri wanita, Adi datang ke kamar kosanku; dia tahu niatku yang busuk kala itu. Adi menyadarkanku, sebetulnya dengan gelar S1 juga cukup, Tengku, bujuk Adi—tetapi aku terlalu egois. Gelar Magister adalah cita-citaku pada keluargaku sebelum mereka semua meninggal. Namun entah manusia apa lelaki bernama lengkap Pringadi Abdi Surya itu. Ia mengerti dengan tekadku, kemudian menasihatiku layaknya seorang Bapak yang saat itu aku butuhkan. Adi mengulurkan tangannya dengan menanggung seluruh biaya kuliahku. Betapa malunya aku karena berniat menjadi orang jahat.

Ingatanku akhirnya tersadar, Adi masih ada di depanku. Calon Istrinya coba mengusap pundak suaminya dengan begitu lembut. Selama 10 menit Adi hanya menatap wajahku dengan mimik yang sama. Aku ingin berkata yang sesungguhnya padamu, Adi, maafkan aku, gumamku dalam hati.

Akhirnya calon istriku datang dari belakang Adi. Wanita cantik dengan wajah kemayu. Rambutnya panjang menyentuh pinggang, jalannya agak sedikit pincang, karena ada tumpuan tongkat di lengannya yang menopang keseimbangan tubuhnya. Aku bangun dari kursiku, lalu menghampiri calon istriku, lantas memapahnya duduk di sebelahku. Adi hanya bisa terdiam.

“Ini calon istriku, Di. Aku memanggilnya Fira, kau tahu kan, 2 suku kata…hehehe.” Aku tersenyum sambil merangkul calon istriku itu. Adi termangu, calon Istrinya menyadarkannya dengan menyenggol bahu.

“Eh, iya” Adi bangun dari lamunannya, lantas menyalami calon istriku. Situasi menjadi canggung, Adi hanya bertanya calon istriku berasal dari daerah mana, dan kenapa bisa menyukaiku, sambil bercanda—dan setelah itu, Adi pamit.

“Maaf Tengku, aku masih harus mengurus gedung tempat kami menikah.” Kilah Adi beralasan. Calon istrinya langsung melihat Adi bingung, namun setelah Adi coba berbicara dengan bahasa tubuh, calon istrinya mau mengerti.

Aku jadi tidak enak hati pada Adi. Aku keterlaluan, pikirku. Aku berusaha mencegah kepergian Adi, namun ia hanya menunjukkan sikap dingin. Ia mengacuhkanku. Calon istriku menahanku berdiri untuk menyusul Adi; mungkin dipikirnya Adi tidak terima dengan kekurangan Calon Istriku– tapi semuanya salah! Apa yang dipikirkan Adi salah! teriakku tanpa bersuara.

Akhirnya Adi lenyap dari pandanganku, ia berbelok di persimpangan jalan dengan langkahnya yang terburu-buru. Aku hanya bisa duduk kembali di samping calon istriku tanpa bisa berkata apa-apa. Calon Istriku menyarankan untuk memilih waktu yang tepat, untuk menemui Adi. Aku lebih memilih mengirimkan pesan singkat, padanya sekarang, melalui ponsel dari saku celanaku: SMS.

***

Inbox

Di, Sorry banget. Maksudku PSK itu, Perempuan Satu Kaki,
bukan Pekerja Seks Komersil.
Maafin aku yah, aku keterlaluan.
Fotomu jadi 3 hari, biar kuantarkan ke apartemenmu.
Ingat, GRATIS! Jangan transfer apa-apa
ke rekening-ku.

Selamat atas pernikahanmu

Tengku

***

Reply

Tidak apa-apa, Tengku. Terima kasih sebelumnya.
Aku juga ingin mengaku padamu, namun aku tak enak.
Setelah aku meminta izin istriku dulu,
baru aku berani bilang:
kau sudah kuanggap adikku sendiri.
Calon istriku adalah Mantan PSK,
Pekerja Seks Komersil.

Jangan lupa undangannya ya.

Adi